Jumat, 03 Mei 2019

Sudut Pandang (Latepost)



Sudah hampir enam bulan saya menginjakan kaki di kota orang, bukan di negeri orang karena kota ini masih menjadi bagian dari negeri saya, Indonesia. Di kota ini saya bertugas selama satu tahun, bukan di bagian kotanya, tapi di bagian pedalamannya. Ya kalo pedalamannya pedalaman Jawa, masih mending, artinya masih bisa terjangkau dengan kendaraan yang ada. Pedalaman tempat saya bertugas adalah pedalaman kota Merauke. Merauke, kota paling timur Indonesia, yang terletak di Pulau Papua.

Apa hal pertama yang terlintas di benak kaliah saat mendengar pedalaman Papua? Hutan rimba kah? Orang makan orang kah? Koteka kah? Suku-suku kah? Hmm tidak semengerikan itu, tapi juga tidak se-enak di kota pastinya. Tempat saya bertugas tepatnya di Kampung Kumbis Distrik Kimaam, Kab. Merauke. Kalau dari Jawa Tengah bisa menuju Bandara Adi Sucipto Jogja untuk terbang ke Jakarta dan kemudian lanjut ke Jayapura langsung menuju ke Merauke. Untuk menuju Kampung Kumbis masih dibutuhkan waktu sekitar 14-16 jam perjalanan laut menyebrangi Laut Arafura menggunakan kapal penumpang. Itulah rute yang bisa ditempuh dan yang saya jalani untuk sampai di Kampung Kumbis, tempat saya bertugas.

Banyak hal yang telah saya alami di sini, ada senang dan dukanya itu pasti. saat jauh dari keluarga dan dari orang-orang tersayang. Saat jauh dari tempat tinggal, dari tempat nyaman saya selama ini, dan dari semua fasilitas yang ada. Namun, dibalik semua itu saya temukan kerabat dan saudara-saudara baru untuk berbagi cerita dan keluh kesah manakala rindu melanda.

Awal saya sampai di sini, belum sempat saya merasakan hingar bingar kota Merauke. dua minggu berada di Wasur, pinggiran kota Merauke, saya langsung diberangkatkan ke tempat tugas. Langsung berpisah dengan fasilitas-fasilitas yang memanjakan. Kaget? iya pastinya, apalagi saya termasuk orang yang gemar bermain dengan gadged. Di Kumbis ini tidak ada fasilitas internet. Jangankan internet, sinyal untuk sekedar bertelepon dan smspun tidak ada.

Satu dua hari belum begitu terasa, tapi satu minggu, dua minggu, mulai terasa banyak sesuatu yang rasanya hilang. saya tidak bisa mengakses info-info dari luar dan juga dari teman-teman, tidak bisa berkomunikasi dengan mereka, dan tidak bisa tahu apapun yang terjadi terhadap mereka. Dan tidak tahu kabar tentangmu juga. Terpaksa saya harus mencari kesibukan untuk membunuh waktu yang ada. Hal yang saya pilih untuk menghabiskan waktu salah satunya adalah memancing dan berkebun, dan memang terbukti berhasil.

Sebulan terlewati tanpa terasa. Saat anak-anak murid mulai akrab dengan saya, terkadang mereka satu persatu datang ke rumah untuk sekedar membawakan ikan dan kelapa muda untuk bapak gurunya. Kadang juga ada warga yang membawakan ubi jalar. Senang rasanya, karena merasa diperhatikan oleh mereka. Selain itu, anak-anak juga merasa ada kebanggaan tersendiri dan merasa sangat senang manakala saya meminta bantuan kepada mereka. Tidak jarang mereka berebut untuk bisa membantu.

Waktu terus berjalan. Hari demi hari saya lewati tanpa sarana komunikasi. Hingga sampai waktu libur sekolah. Saya putuskan untuk berlibur ke kota, ya kota merauke, untuk sekedar menjelajah kota kecil ini. Perjalanan menuju kota tidaklah mulus, saya dan rekan saya menumpang kapal kepiting yang singgah juga di Kumbis. Ketika di tengah perjalanan, mesin kapal rusak yang mengharuskan kami menungu sekitar 16 jam di laut arafura, terombang ambing oleh ombak laut selatan Papua.

Sampai di kota hal yang pertama saya lakukan adalah menghubungi keluarga dan orang-orang tersayang, kemudian menikmati segala aktifitas dan fasilitas yang ada di kota. Kota merauke tidak jauh beda dengan kota-kota di jawa lainnya. Kota ini juga sudah tampak lebih maju dari yang dibayangkan, dan memang cukup kecil daerahnya.

Waktu liburan telah usai, saatnya kembali ke sekolah yang artinya harus kembali lagi dengan keterbatasan sarana dan prasarana. Musim hujan baru saja mulai, kabar yang beredar di kumbis akan banyak nyamuk sampai beberapa bulan. Saya sudah mengantisipasinya dengan membeli obat nyamuk bentuk lotion. Sampai di Kumbis memang nyamuk banyak, tapi tidak seperti yang saya bayangkan, jauh lebih banyak dari ekspektasi saya. Saat jalan dari dermaga menuju kampung, tangan tak henti-hentinya mengibas-ngibas untuk menghindari dan mengusir nyamuk yang menempel di tangan dan muka. Belum lagi yang menempel di kaki. Dan gigitan nyamuk di sini jauh lebih terasa dari pada nyamuk yang pernah saya rasakan.

Tidak cukup sampai di situ, saat saya sampai rumah, betapa kagetnya saya. Kondisi rumah yang sangat memprihatinkan. Rumah dalam keadaan terbuka, barang-barang semua tidak ada entah kemana. Ada sebagian di rumah tetangga dan sebagian lain lagi tidak tau jejaknya. Hal ini yang membuat saya miris dan prihatin. Ya mungkin saja orang-orang ikut bantu menyimpankan. Mungkin.
Setelah liburan kali ini yang menurut saya benar-benar waktu terasa jauh lebih lama. Keadaan Kumbis yang banyak nyamuk membuat aktifitas saya terbatas. Tempat paling nyaman dan aman adalah di dalam klambu. Nyamuk di Kumbis sangat ganas. Keluar rumah saja nyamuk sudah menunggu di luar siap menyerbu. Apalagi kalau turun ke kebun dan jalan ke sekolah, nyamuk langsung menyerbu dan "mengerubungi" kalo tidak pakai baju, nyamuk yang menempel di badan bagaikan pasir yang di lemparkan ke badan, banyak sekali.

Tidak banyak yang dapat saya lakukan. Jangankan untuk pergi memancing dan berkebun, untuk sekedar jalan ke sekolahpun nyamuk sudah menyerang. Saat berangkat ke sekolah, selalu obat nyamuk yang saya bawa. Untuk mengusir nyamuk di sekitar saya saat mengajar. Waktu jadi terasa lebih lama karena terbatasnya aktifitas yang bisa dilakukan.

Begitulah kehidupan saya di Kumbis. Hidup dimanapun memang selalu ada hal yang positif dan negatif, selalu ada yang enak dan tidak enak. Dan semua kembali tergantung dari kitanya mau menyikapi bagaimana. Seperti dalam fotografi, sudut pandang yang berbeda dapat menghasilkan foto yang berbeda pula. Dalam menyikapi masalah juga seperti itu. Kalau kita hanya melihat dari sisi negatifnya saja, kita akan merasa makin susah dan hidup makin tidak enak. Sebaliknya kalau kita melihat dari sisi positif, kita akan lebih menikmati dan mensyukuri atas apa yang telah kita terima.

Di sini, di Kumbis, saya jadi lebih bersyukur, bersyukur atas apa yang telah saya miliki. Bersyukur dengan kondisi geografis di tempat tinggal saya, dan bersyukur atas apapun yang melekat pada saya. Karena belum tentu orang lain memiliki apa yang saya miliki atau tempat lain tidak seperti tempat yang saya tinggali. Intinya, selalu bersyukur dan terus bersyukur. Karena dengan bersyukur Allah akan menambahkan nikmat-Nya.
Kumbis, 18 Februari 2016
Riky Indra Prihantoro


Senin, 26 Maret 2018

Persamaan Frekuensi


Ketika harus menyamakan sebuah frekuensi yang awalnya berbeda, semua pengertian, saling memahami, dan saling mengalah sangat diperlukan. Bukan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah, karena kebenaran hanya milik Allah. Tetapi tentang bagaimana mengarahkan semua itu untuk menuju ke perbaikan. Perbaikan antar dua frekuwnsi yang akan disamakan sehingga menjadi sama. Tidak harus menaikan salah satu frekuensi untuk mengikuti frekuensi di bawahnya, ataupun sebaliknya. Tetapi sama-sama mengurangi dan menambah sehingga menjadi satu frekuensi  yang sama.

Memang tidak mudah, karena sesuatu yang indah akhirnya jarang diawali dengan kemudahan. Bagaimana bisa kamu merasa kalah kalau kamu tidak berjuang. Dalam menyamakan frekuensi juga butuh perjuangan. Perjuangan melawan ego yang pada dasarnya merasa bahwa diri ini selalu benar. Perjuangan yang memang sangat sulit. Mungkin karena rasa sangat mencintai diri ini sehingga kurang memperdulikan orang lain.

Pfft...semoga proses penyamaan frekuensi ini menjadi bagian dari proses pembelajaran pada scene kehidupan saat ini, untuk bisa menjadi penguat hati sekaligus pengingat diri bahwa kita juga harus dapat membaca dan peka terhadap segala tanda-tanda yang tidak dapat terbaca secara real. Karena tingkatan membaca yang paling tinggi adalah membaca tanda-tanda disekitar kita. >,<

Selamat belajar..selamat menyamakan frekuensi.. 

Jumat, 20 Oktober 2017

Catatan

Api bagai mahluk hidup, dia butuh udara untuk bernafas. Membuat api dengan kayu pun tidak bisa sembarangan, kita harus menatanya sedemikian rupa sehingga udara bisa masuk dan ikut menghidupkan sag api.
Cinta tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Terkadang dia memilih jalan yang jauh, jalan yang penuh batu kerikil dan jalan yang berliku. Tapi yakinlah, dari jalan yang seperti itu akan membuat cinta lebih teruji dan menghasilkan cinta yang penuh arti. Bukankah pelaut yang handal tidak lahir dari lautan yang tenang?
Bersikap egoislah sedikit, karena kamu hidup hanya satu kali. Menjadi bermanfaat bagi orang lain memang mulia tapi tanpa memperdulikan dirimu sama saja mendzolimi diri sendiri. Jangan buat orang lain merasa bahagia atau senang di atas kesusahanmu, karena orang tersebut kadang juga ingin bermanfaat buatmu dan ingin melihatmu merasa bahagia dan senang.
Stop thingking. Kadang kita mungkin perlu berenti untuk memikirkan apa yang akan terjadi dan apa yang akan kita lakukan. Cukup melakukannya saja dengan mengharap ridho dari Allah tanpa harus memikirkan nanti akan bagaimana-bagaimana.
Ketika rindu sudah benar-benar tak dapat dibendung, dan waktu terasa berjalan semakin lama, sedangkan tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyampaikan rasa rindu tersebut, hanya doa yang bisa ku panjatkan. Semoga engkau disana baik-baik saja.

"Tidak semua yang kita inginkan harus dan dapat terpenuhi, maka belajarlah menerima, bersabar, dan bersyukur"


Yogyakarta, Jum'at 20 Oktober 2017

Jumat, 07 April 2017

Mengikat Makna, Mengukir “Aku Cinta Sekolah” di Bumi Merauke



Oleh: Riky Indra Prihantoro, S.Pd.
 “Mendidiklah dengan hati!”. kata-kata itulah yang selalu menjadi pedoman  bagi setiap pendidik. Dengan tulus dan ikhlas memberikan setiap ilmu yang dimiliki, untuk bekal anak didiknya. Belajar bersama dalam rumah formal bernama sekolah. Sekolah merupakan tempat atau sarana untuk mencetak generas-generasi penerus bangsa. Selain sebagai pemasok ilmu pengetahuan bagi siswa, sekolah juga sebagai pembentuk karakter dan kepribadian siswa. bahkan di sekolah jugalah tempat para siswa merangkai mimpi, sebuah gerbang depan untuk cita-cita tinggi mereka.
Sekolah juga sebagai sarana sosialisasi kecil bagi siswa sebelum mereka terjun langsung kelingkungan masyarakat yang sebenarnya. Oleh karena itu maka sangatlah penting bagi siswa untuk bisa hadir di sekolah dan ikut serta dalam setiap kegiatan yang berlangsung di sekolah. Dimana di era saat ini,  bersekolah sudah menjadi suatu kewajiban bagi anak-anak di seluruh Indonesia.
Di era saat ini mungkin kita takkan mengira bahwa pendidikan masih “mahal” untuk di beberapa wilayah di Indonesia. “mahal” dalam artian masih jauh dari kata “nyaman” untuk bisa bersekolah. Masih jauh dari kata “menyenangkan” untuk bisa menjadikan sekolah sebagai rumah kedua bagi para siswa. bahkan tak sedikit dari mereka beranggapan, “buat apa sekolah?”
Merauke, salah satu kabupaten paling timur Indonesia. Merupakan kabupaten yang berbatasan langsung dengan Papua New Guini. Letaknya yang begitu jauh dari ibukota Negara, membuat kabupaten ini masih sedikit kurang perhatian dari pemerintah pusat, sehingga masih banyak daerah-daerah yang disebut pelosok atau pedalaman. Hal tersebut salah satunya dikarenakan oleh keterbatasan sarana transportasi dan komunikasi yang mengakibatkan pola piker dan peradaban masyarakan “pedalaman” tersebut masih sedikit primitive. Begitu pula dalam bidang pendidikan.
Kepedulian dalam bidang pendidikan oleh suku asli masih sangat kurang. Kebanyakan dari mereka menghabiskan hidupnya hanya untuk “mencari ……” untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja. Tidak jarang para orang tua mengajak anaknya yang masih kecil-kecil untuk ikut “mencari……….” bukanya untuk sekolah dan belajar. Pola hidup yang demikian turut mempengaruhi orientasi anak-anak usia sekolah terhadap pendidikan dan sekolah. Hanya ada beberapa orang tua saja yang seringkali memperhatikan dan menyuruh anak mereka untuk bersekolah. Siswa yang “dipaksa” untuk bersekolah oleh orang tuanya (jika tidak dapat pukul) terbukti memiliki kesadaran dan tingkat kehadiran serta prestasi (kemampuan akademik) lebih tinggi disbanding siswa lainnya.
Pernah suatu ketika saat sedang santai kami melakukan sedikit percakapan dengan salah seorang siswa, kami: “nata, kamu tidak ikut bapak ke laut kah?”.Siswa: “tidak bapak guru, kata bapak saya harus sekolah”. Kami: “baru kalau kamu tidak sekolah bapak marahkah”. Siswa:“marah bapak guru, saya bisa kena pukul”. Dari percakapan singkat tersebut kami beranggapan, ternyata ada juga orang tua yang berpikiran lebih maju, yang lebih mengutamakan pendidikan bagi anaknya.
Selain karena paksaan orang tua, kehadiran siswa di sekolah juga dipengaruhi oleh kondisi alam. Saat saat musim panas siswa bisa berangkat lebih tempo atau lebih awal dari pada musim hujan. Tetapi apabila cuara mendung atau hujan, sampai pukul 10.00 wit terkadang belum ada siswa di sekolah. Bagi penduduk pedalaman, penunjuk waktu yang mereka gunakan adalah matahari. Sehingga apabila cuaca mendung, dan matahari tidak muncul, mereka mengira masih pagi, sehingga masih tidur di rumah masing-masing.
Di beberapa sekolah seperti di TK dan SD yang ada di Distrik Kimaam, mereka memberikan sarapan pagi bagi siswa yang berangkat ke sekolah. Hal ini menjadi daya tarik terhadap kehadiran siswa. Sebagian siswa saat pagi hari belum sarapan karena orang tuanya di rumah belum memasak. Dengan adanya sarapan pagi di sekolah, siswa menjadi senang, dan mendorong siswa untuk rajin berangkat sekolah.
Tidak sedikit siswa yang berangkat sekolah hanya ikut-ikut teman-temannya saja. Mereka ke sekolah untuk bertemu dan bermain dengan teman-temannya, sehingga sekolah hanya digunakan sebagai media untuk bertemu dengan teman. Pernah saat pembelajaran masih berlangsung, beberapa siswa merengek minta pulang dengan alasan lapar. Tetapi setelah dipulangkan, mereka tidak langsung pulang, malah bermain dengan temannya, dan bahkan ada yang bermain bola.
Selain karena ingin bermain dengan teman, tujuan anak pergi sekolah juga karena takut dengan guru. Kami pernah mendengar cerita bahwa beberapa tahun yang lalu ada guru yang setiap pagi keliling kampung dengan membawa rotan untuk memukul anak-anak yang didapati tidak pergi sekolah. Hal tersebut membuat anak pergi ke sekolah meski karena terpaksa. Tetapi ada juga siswa yang pergi ke sekolah karena ingin bertemu atau mendapati guru yang baik. Saat tugas kami selesai dan akan meninggalkan sekolah, ada siswa yang bilang “Bapak guru, kalau bapak guru pergi saya tidak mau sekolah” “kenapa tidak mau sekolah?” “Saya takut di pukul, saya mau pindah ke kota”.
 Siswa malas pergi ke sekolah juga terkadang disebabkan oleh kemapuan siswa itu sendiri yang kurang dibandingkan siswa lainnya. Siswa yang memiliki kemampuan kurang terkadang menjadi bahan ejekan oleh temannya, sehingga mereka lebih ingin untuk bermain daripada sekolah dan malas mengikuti pembelajaran. Ada beberapa siswa kelas 4 yang minta turun kelas. Alasannya adalah karena ingin lebih banyak bermain, seperti kelas di bawahnya.

Namun, dari sekian siswa juga ada beberapa siswa yang pergi sekolah karena kesadaran pribadi dan memang benar-benar ingin pintar dan perlu akan pendidikan. Mereka senang saat kami memberikan materi yang baru dan cepat memahami apa yang kami sampaikan. Memang kesadaran dari dalam diri sangatlah penting. Karena dengan merasa perlu, siswa akan lebih memperhatikan instruksi dan penjelasan guru. Tidak jarang siswa yang pergi ke sekolah dengan keinginan sendiri senang apabila diberi PR dan malah minta PR.
bercermin dari bumi merauke, pendidikan tak selamanya nyaman bahkan berada dalam keterbatasan. tapi yakinlah bahwa  untuk mencapai kemajuan selalu membutuhkan proses. begitu pula terhadap dunia pendidikan. untuk bisa menanamkan rasa “Aku Cinta Sekolah” di bumi merauke ini tak jarang membutuhkan pengorbanan lebih dari para pejuang-pejuang pendidikan. mengajar dan mendidik lah dengan hati wahai para pejuang pendidikan, maka apapun yang kita sampaikan akan terikur di hati anak didik. Tetap semangat untuk Bapak/ Ibu Guru!!!


RikyIndraPrihantoro, S.Pd.
Guru SM-3T SD INPRES Kumbis


Selasa, 09 Oktober 2012

Strategi Penyampaian Pembelajaran

oleh Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd

Uraian mengenai strategi penyampaian pembelajaran menekankan pada media apa yang dipakai untuk menyampaikan pembelajaran, kegiatan belajar apa yang dilakukan siswa, dan dalam struktur belajar mengajar yang bagaimana. Strategi pengelolaan menekankan pada penjadualan penggunaan setiap komponen strategi peng- organisasian dan strategi penyampaian pembelajaran, termasuk pula pembuatan catatan tentang kemajuan belajar siswa. mengacu kepada cara-cara yang dipakai untuk menyampaikan pembelajaran kepada si-belajar, dan sekaligus untuk menerima serta merespon masukan-masukan dari si-belajar.

Oleh karena fungsinya seperti ini, maka strategi ini juga dapat disebut sebagai metode untuk melaksanakan proses pembelajaran. Gagne dan Briggs (1979:175) menyebut strategi ini dengan delivery system, yang didefinisikan sebagai "the total of all components necessary to make an instructional system operate as intended". Dengan demikian, strategi penyampaian mencakup lingkungan fisik, guru, bahan-bahan pembelajaran, dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pembelajaran. Atau, dengan ungkapan lain, media merupakan satu komponen penting dari strategi penyampaian pembelajaran. Itulah sebabnya, media pembelajaran merupakan bidang kajian utama strategi ini.Secara lengkap ada tiga komponen yang perlu diperhatikan dalam mempreskripsikan strategi penyampaian, yaitu:




  1. Media pembelajaran,
  2. Interaksi si-belajar dengan media,
  3. Bentuk (struktur) belajar-mengajar.

    Media pembelajaran adalah komponen strategi penyampaian yang dapat dimuati pesan yang akan disampaikan kepada si-belajar, apakah itu orang, alat, atau bahan.

  4. Interaksi si-belajar dengan media adalah komponen strategi penyampaian pembelajaran yang mengacu kepada kegiatan apa yang dilakukan oleh si-belajar dan bagaimana peranan media dalam merangsang kegiatan belajar itu.Bentuk belajar mengajar adalah komponen strategi penyampaian pembelajaran yang mengacu kepada apakah siswa belajar dalam kelompok besar, kelompok kecil, perseorangan, ataukah mandiri.


    Media Pembelajaran 
    Martin dan Briggs (1986) mengemukakan bahwa media pembelajaran mencakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dengan si-belajar. Ini bisa berupa perangkat keras, seperti komputer, televisi,proyektor, dan perangkat lunak yang digunakan pada perangkat-perangkat keras itu. Dengan menggunakan batasan Martin dan Briggs, guru juga termasuk media pembelajaran sehingga merupakan bagian dari kajian strategi penyampaian.Seperti telah dikemukakan dalam bab 1, sekurang-kurangnya ada lima cara dalam mengklasifikasi media pembelajaran untuk keperluan mempreskripsikan strategi penyampaian:
    1. Tingkat kecermatan representasi,
    2. Tingkat interaktif yang mampu ditimbulkannya,
    3. Tingkat kemampuan khusus yang dimilikinya,
    4. Tingkat motivasi yang mampu ditimbulkannya, dan
    5. Tingkat biaya yang diperlukan.

    Tingkat kecermatan representasi suatu media bisa diletakkan dalam suatu garis kontinum, seperti: benda konkrit, media pandang-dengar, seperti film bersuara; media pandang, seperti gambar atau diagram; media dengar, seperti rekaman suara dan simbul-simbul tertulis. Bagaimanapun juga, kontinum ini bisa bervariasi untuk suatu pembelajaran. Misalnya, pembelajaran untuk suatu konser musik akan memiliki variasi kontinum yang berbeda menurut tingkat kecermatan representasinya.

    Bruner (1966) dalam pengembangan teori pembelajar- annya, mengemukakan bahwa suatu pembelajaran harus bergerak dari pengalaman langsung, ke representasi ikonik (seperti dalam gambar dan film), dan selanjutnya ke representasi simbolik (seperti: kata atau simbol-simbol lain). "Instructional media not only provide the necessary concrete experiences, but also help students integrate prior experiences" (Heinich, Molenda, dan Russell, 1985:9). Banyak siswa telah melihat berbagai aspek bagaimana cara pengaspalan jalan raya. Mereka melihatbanyak kendaraan pengangkut bahan, seperti batu dan pasir. Mereka juga telah melihat cara menata batu, serta ukurannya. Mereka melihat bagaiaman cara membakar aspal dan menuangkannya ke atas batu yang telah ditata. Mereka juga melihat alat-alat besar lainnya, seperti bagaimana silinder bekerja. Bagaimanapun juga, mereka sering mendapat pengalaman ini secara terpisah-pisah. Di suatu tempat siswa melihat bagaimana menata batu, dan di tempat lain mereka melihat bagaimana membakar aspal, dan seterusnya. Bagaimanapun juga, mereka perlu memiliki pengalaman yang terintegrasi yang meng-gambarkan bagaimana cara pembangunan sebuah jalan raya. Media film tentang pembuatan jalan raya akan dapat mengintegrasikan semua tahapan ini sehingga pengalaman-pengalaman siswa yang terpisah-pisah tadi terintegrasi ke dalam suatu abstraksi yang bermakna.

    Tingkat interaksi yang mampu ditimbulkan oleh suatu media juga dapat dibentangkan dalam suatu kontinum, tetapi titik-titik dalam kontinum ini ditunjukkan oleh jenis media yang berbeda: komputer, guru, buku kerja, bukuteks/rekaman, dan siaran radio/televisi. Media-media ini juga mempunyai kemampuan menyajikan berbagai media yang telah dikemukakan sebelumnya. Misalnya, guru dapat menyajikan semua media dari benda konkrit sampai simbul-simbul verbal. Buku kerja dapat menyajikan gambar, diagram, serta simbul-simbul tertulis. Juga dimungkinkan untuk menggunakan media secara terkombinasi, seperti buku kerja dengan film atau benda konkrit bila sedang bekerja di lab. Atau, buku kerja dikombinasi dengan bukuteks atau siaran radio. Atau juga simbul-simbul tertulis dengan film atau benda-benda konkrit. Kombinasi-kombinasi lainpun dapat diciptakan untuk keperluan suatu pembelajaran .

    Tingkat kemampuan khusus yang dimiliki oleh suatu media juga dapat dipakai untuk mempreskripsikan strategi penyampaian. Tiap media dari berbagai media yang telah dibicarakan di atas, baik dari kontinum tingkat kecermatan maupun tingkat interaktifnya, dapat diidentifikasi karakte-ristik khusus yang dimilikinya. Karakteristik khusus yang dimaksud adalah kemampuannya dalam menyajikan sesuatu yang tidak dapat disajikan oleh media lain. Media-media yang mempunyai kemampuan khusus inilah yang amat berpengaruh dalam menetapkan strategi penyampaian.

    Kemampuan-kemampuan khusus suatu media bisa dilihat dari kecepatannya dalam menyajikan sesuatu, seperti film tentang pembangunan jalan raya akan lebih cepat memberi gambaran tentang bagaimana tahapan pembuatan jalan raya, dibandingkan dengan mengamati langsung ke lokasi yang memakan waktu lama sampai jalan itu selesai. kemampuan simulatif, seperti dalam simulator terbang yang memungkinkan seorang pilot dapat mendaratkan sebuah pesawat sepuluh kali dalam satu jam tanpa harus lepas landas lagi setiap kali akan mengambil posisi mendarat berikutnya.

    Kemampuan-kemampuan khusus juga sering dimiliki oleh media-media yang tingkat kecermatan representasi-nya rendah. Media rekaman, umpamanya, tidak terikat oleh waktu dan ruang. Media ini tingkat kecermatannya rendah, tetapi ia memiliki kemampuan khusus untuk menyajikan sesuatu yang sudah berlalu dan tak dapat diulangi.

    Tingkat pengaruh motivasional yang dimiliki suatu media juga penting artinya untuk keperluan mempreskripsi-kan strategi penyampaian. Namun perlu dicatat bahwa pengaruh motivasional ini sering kali amat bervariasi sejalan dengan perbedaan perseorangan di antara si-belajar. Umpamanya, seorang guru, sebagai media belajar, dapat bertindak sebagai motivator bagi seorang siswa, tetapi pada saat yang sama, ia justru menghancurkan motivasi belajar siswa yang lain.

    Suatu media pembelajaran bisa memberi pengaruh motivasional yang berbeda. Perbedaan ini lebih banyak dapat dikaitkan dengan perbedaan karakteristik si-belajar. Makin dekat kesamaan karakteristik si-belajar dengan media yang dipakai, makin tinggi pengaruh motivasional yang bisa ditimbulkan oleh media itu. Heinich, Molenda, dan Russell (1985:36) menyimpulkan tentang semua ini, bahwa "If instructional media are to be used effectively, there must be a match between the characteristics of the learner and the content of the learning material and its presentation".

    Di samping interaksinya dengan karakteristik si-belajar, media juga dapat berinteraksi dengan tipe isi bidang studi dalam menentukan pengaruh motivasionalnya. Tipe isi konsep lebih tepat didekati dengan media benda konkrit, atau gambar serta diagram, sedangkan untuk tipe isi prosedural, film bersuara yang menunjukkan prosedur-prosedur yang sedang dipelajari akan dapat menimbulkan pengaruh motivasional yang tinggi.

    Tingkat biaya yang diperlukan dalam menyiapkan suatu media juga penting untuk mempreskripsikan strategi penyampaian. Mulai dari perancangan sampai pada pembuatannya, kalau media itu dikembangkan sendiri. Kalau ingin menggunakan media siap pakai, dengan membeli, berapa harganya? Apakah memadai jika diban- dingkan dengan keseluruhan strategi penyampaian yang akan dipakai? Nilai dari suatu strategi penyampaian dapat ditaksir dari jenis dan satuan media yang dipakai.

    Bagaimanapun juga, makin tepat dan lengkap media yang dipakai, makin besar keefektifan dari strategi penyampaian itu.Kemp (1985:139) mengklasifikasi media pembelajaran dengan menggunakan pendekatan bentuk pembelajaran: kelas besar, kelompok kecil, dan belajar sesuai dengan kecepatan siswa secara perseorangan. Klasifikasi ini ditunjukkan dalam tabel 4.1, 4.2, dan 4.3.

    Pemilihan media, menurut Kemp (1985:137), didasarkan pada karakteristik tujuan khusus yang ingin dicapai dan karakteristik isi yang ingin dipelajari, di samping faktor-faktor lain, seperti tersedia-tidaknya media itu dan mampu-tidaknya guru menggunakannya.Klasifikasi lain dikemukakan oleh Gagne dan Briggs (1977:176-1770). Mereka menyajikan suatu tabel (tabel 4.4) tentang kaitan strategi penyampaian, yang dibedakannya menjadi enam: pembelajaran kelas besar, pembelajaran perseorangan, pembelajaran kelompok kecil, belajar mandiri, belajar/praktek di lapangan kerja, dan belajar di rumah; dengan media pembelajaran, serta mengaitkan kedua hal ini dengan jenis kegiatan belajar, metode pembelajaran, dan peranan guru.

    Jumat, 17 Februari 2012

    Kuliah Pertamaku di Semester 4

    Hyaaaa...yatta... semester baru telah datang, semester 4 yang mungkin akan menjadi semester yang beda..kayane.. Niatnya mau nulis ini kemarin, tapi niat tersebut kalah ma rasa cape jadinya ya sekarang nulisnya. Semester 4 sebenarnya dimulai pada tanggal 13 Februari 2012, namun pada tanggal itu aku cuma mendapatkan jadwal dan dosen yang mengajar kelasku pada hari itu belum tau siapa..hhe

    Hari selasa, aku nekat pulang ke kebumen, karen aku berasumsi bahwa hari-hari berikutnya jga akan sama dengan tanggal 13 itu :D. Ternyata asumsiku salah, hari selasa dan rabu dosen masuk semua. Selasa makul Matematika dah mulai mengisi buku catatan teman-temanku, begitu juga dengan makul KWU, telah membentuk kelasku menjadi kelompok-kelompok kecil, entah aku satu kelompok dengan siapa. hhe.. Rabu juga demikian makul KD IPA 3 dan Med. Pembelajaran dah masuk ke kelasku. So, aku ketinggalan 4 makul pada minggu pertama masuk kuliah.... 

    Naah, hari kamis menjadi hari dimana aku mulai kuliah setelah dua hari bolos..hhe. Makul pertama Evaluasi Pembelajaran. Dosen pengampunya Drs. Sutijan, M.Pd dan Dra. Siti Istiyati, M.Pd. dan yang waktu itu masuk hanya P. Sutijan. Ketemu lagi ma P. Tijan di semester ini... Ya seperti dosen pada umumnya ketika pertama kali masuk, beliau memberi pengantar semacam kontrak kuliah yang tak tertulis. Beliau bilang, kalo nilai bagus gampang, asalkan berangkat terus dan mengerjakan tugas dengan baik, dapat 80, itu berarti dapat A. Kalo berangkat terus tapi tugasnya cma di isi " telo kacang jagung dst..." nilainya 70, tetep dapat B. Dalam hati aku ingin mencobanya, tapi seketika beliau bilang yang intinya kalo mahasiswa PGSD tu seleksinya ketat sekali, jadi beliau beranggapan tidak mngkin ada yang mengerjakan tugas dengan asal-asalan. Sebuah baik sangka yang patut ditiru. 

    Saat beliau sedang bercakap-cakap, datang salah dua teman sayang yang terlambat. apa yang beliau katakan pada teman saya tersebut??beliau berkata "Mbak tutup pintunya.......dari luar". Wah dosen ini tegas sekali. Beliau cerita banyak hal tentang pengalamannya hingga masuk materi dan akhirnya ditutup dengan wassalam.

    Kuliah masih berlanjut, makul yang selanjutnya adalah Pendidikan Inklusi. Makul ini diampu P. Tijan (lagi) dengan Bu Yulianti. Melihat tingkah duet dosen ini membuatku tertawa, bagaimana tidak, P. Tijan begitu tegas dan kadang bisa dibilang tega, sedangkan Bu Yuli, sosok dosen yang keibuan. Lucu deh hasil kolaborasi dari keduanya... :D

    Setelah memberi penjelasan tentang tugas, Bu Yuli minta ijin untuk mengisi di PAUD Paser. Pembelajaran kemudian dilanjutkan oleh P. Tijan seorang. Karena paginya kami telah ketemu, maka Beliau langsung masuk ke materi. Perkuliahanpun selesai setelah beberapa slide ppt di tampulkan. Hari itu dan hari kamis yang akan datang, kelas kami, 4B, akan bertemu dengan P. Tijan dari pagi sampai siang. Yatta.. semangaaat, gambate kudasai :D

    Selasa, 06 Desember 2011

    First Generation of Saka Wira Kartika

    Kembali jari-jariq ingin menekan-nekat tut pada keyboard netbokq. Kali ini aku ingin ng-share pengalamanq masuk menjadi anggota SWK (Saka Wira Kartika) Kodim 0709 Kebumen yang kebetulan waktu itu baru awal pembukaan sehingga aq termasuk kedalam angkatan pertama. First Generation. Ohya...sebelumnya SWK itu merupakan sebuah SAKA (Satuan Karya) yang dibawahi atau diampu oleh TNI Angkatan Darat. Pengorganisasian Saka binaan TNI-AD ini, tidaklah jauh berbeda dengan Satuan Karya pada umumnya. Namun Demikian Saka Wira Kartika ini memiliki Program Pendidikan yang dibentuk dalam Satuan Krida antara Lain : Krida Survival, Krida Pioneer, Krida Mountainering, Krida Navigasi Darat, Krida Bintal Juang. Tiap Krida memiliki Spesifikasi materi pendidikan yang berbeda dengan krida lainnya.

    Mari mulai masuk ke pengalamanku masuk ke dunia SWK. Pertama kali aq tahu informasi tentang SWK ini adalah dari Bapak. Bapak yang berprofesi sebagai TNI-AD tentulah tahu perihal tentang SWK yang bermarkas di Kodim 0709 Kebumen. Bapak pernah menawariq untuk ikut kegiatan tersebut dengan nada menantang. Namun saat itu aq sama sekali tidak berminat, sehingga tak menghiraukan ajakan Bapak. Kala itu aq masih duduk di kelas X di sebuah SMA terfavorit di Kotaq, SMA Negeri 1 Kebumen. Ketertarikanq pada SWK muncul ketika salah satu teman SMPq yang bersekolah di lain SMA memberi kabar dan menceritakan keikutsertaannya dalam SWK. Aq mulai tertari mendengar cerita-ceritanya. Selain itu juga banyak teman-teman SMPq yang ternyata ikut SWK juga. Akhirnya aq memutuskan untuk ikut juga, dan menerima tantangan dari Bapak yang sebelumnya tak q hiraukan.
    Awal aq berangkat SWK bertepatan dengan acara pengukuhan. Acara ini bertujuan untuk mengukuhkan kami atau kata lainnya menjadikan kami sebagai anggota resmi SWK Kodim 0709 Kebumen. Acara pengukuhan dilaksanakan pada hari sabtu-minggu, sehingga tidak mengganggu pelajaran di sekolah. Kami merapat ke Mabes pada sabtu sore sekitar pukul 15.00. Setelah semua anggota baru dikumpulkan, kami dibagi ke dalam tiga peleton untuk melaksanakan upacara pembukaan. Pada upacara pembukaan tersebut kami memakai pakaian pramuka lengkap tanpa perlengkapan ransel. Selesai upacara kami diberi pengarahan dan kemudian dikumpulkan dalam aula sembari menunggu waktu maghrib tiba.

    Seusai maghrib, acara di isi dengan sedikit kultum dari pembina sampai waktu isya tiba dan langsung shalat isya berjama'ah. Setelah selesai, kami semua disuruh memakai pakaian pramuka lengkap dan dikumpulkan dilapangan. kami semua yang awalnya dibagi menjadi tiga peleton, kini di bagi lagi menjadi beregu-regu dan tiap regu terdiri dari sekitar 10 orang. Waktu itu jumlah anggota baru ada sekitar 150an andik. Sekitar pukul 20.00 kami diberangkatkan dari Mabes untuk longmarch sejauh yang kami tidak tahu pastinya. Yang kami tahu, subuh kami baru sampai lagi di Mabes. 

    Kami berjalan dikegelapan dan dinginnya malam, disaat semua orang sedang tertidur pulas, kami menikmati indahnya malam dan dinginnya udara di luar. Trak perjalanan yang kami lewati tidaklah mudah. Hari mendung disertai gerimis. Tidak jarang kami melewati genangan air dan masik ke dalam  sepatu sehingga menambah rasa dingin yang kami rasakan. Jalan yang kmi lewati tidaklah selalu jalan aspal, ada juga jalan yang berupa tanah liat, pematang sawah, dan juga tanah berlumpur, sehingga sepatu kami makin berat karena ditempelin adonan dari tanah liyat yang terinjang-injak. 

    Di bagian akhir perjalanan, kami diberi benda, benda trsebut adalah sedotan yang di dalamnya ada badge Saka Wira Kartika yang nantinya akan dipasang di lengan sebelah kiri baju pramuka kami. Saat pemberian sedotan tersebut, kami diberi wejangan : " Jaga ini baik-baik, jangan sampai ke tangan orang lain! Anggap barang ini nyawamu sendiri, sehingga apabila barang ini jatuh k tangan orang lain, maka kamu mati!". Aku sedikit merinding mendengarnya. Sebegitu pentingkah benda ini??? Aq pun heran siapa yang akan memintanya,kan semuanya sudah dapat. Benaar...beberapa langkah setelah menerima benda tersebut, ada senior dari binaan TNI yang ikut berpartisipasi meminta benda yang baru beberapa menit di tangan kami. Mereka meminta secara paksa dan sambil mencoba merebutnya dari kami dengan segala cara. Aq teringat wejangan tadi dan berusaha mempertahankan benda yang sangat berharga layaknya nyawaq. Di sinilah sifat amanah kami di uji. Kami di amanatkan sesuatu dan disuruh menjaganya baik-baik.

    Dengan susah payah rintangan ini dapat q atasai. Ada beberapa rekan saya  yang kehilangan benda keramat tersebut sehingga mreka melanjutka perjalanan dengan perasaan was-was dan khawatir membayangkan hukuman yang akan diterimanya. Setelah beberapa menit berjalan, kami diberhentikan dan dikumpulkan di sebuah area tanah lapang. Kami dipersilahkan duduk dan meregangkan kaki yang telah bekerja keras menopang badan kami selama beberapa jam. Tiba-tiba suara lantang mengagetkan kami dari belakang. Suara tersebut siap mencengkeram kami di kedinginan dini hari. Suara tersebut bertanya siapa yang kehilangan benda keramat yang telah dibagikan tadi. Satu persatu rekan yang kehilangan benda tersebut berjalan dan berkumpul di belakang barisan kami. Mereka di tindak dengan cara merayap di tanah liyat yang tergenang air sejauh kurang lebih 5 meter. Aq dapat mrasakan betapa kedinginannya mereka. Itulah akibatnya tidak menjaga amanah dengan baik.

    Setelah beberapa menit istirahat, kami melanjutkan perjalan menuju Mabes. Perjalanan tidak begitu lama, sekitar satu jam kami sudah samapi di Mabes dan membersihkah diri untuk melaksanakan ibadah shalat subuh. Setelah shalat subuh kami diberi waktu bebas untuk sekedar menyandarkan tubuh dan tidur sejenak. Setelah pukul 07.00 kami dikumpulkan di lapangan untuk melaksanakan upacara penutupan dan penyematan tanda anggota Saka Wira Kartika. Mulai saat itu kamu resmi menjadi bagian dari keluarga Saka Wira Kartika Kodim 0709 Kebumen.

    Bersambung......