Ketika harus menyamakan sebuah frekuensi yang awalnya berbeda, semua pengertian, saling memahami, dan saling mengalah sangat diperlukan. Bukan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah, karena kebenaran hanya milik Allah. Tetapi tentang bagaimana mengarahkan semua itu untuk menuju ke perbaikan. Perbaikan antar dua frekuwnsi yang akan disamakan sehingga menjadi sama. Tidak harus menaikan salah satu frekuensi untuk mengikuti frekuensi di bawahnya, ataupun sebaliknya. Tetapi sama-sama mengurangi dan menambah sehingga menjadi satu frekuensi yang sama.
Memang tidak mudah, karena sesuatu yang indah akhirnya jarang diawali dengan kemudahan. Bagaimana bisa kamu merasa kalah kalau kamu tidak berjuang. Dalam menyamakan frekuensi juga butuh perjuangan. Perjuangan melawan ego yang pada dasarnya merasa bahwa diri ini selalu benar. Perjuangan yang memang sangat sulit. Mungkin karena rasa sangat mencintai diri ini sehingga kurang memperdulikan orang lain.
Pfft...semoga proses penyamaan frekuensi ini menjadi bagian dari proses pembelajaran pada scene kehidupan saat ini, untuk bisa menjadi penguat hati sekaligus pengingat diri bahwa kita juga harus dapat membaca dan peka terhadap segala tanda-tanda yang tidak dapat terbaca secara real. Karena tingkatan membaca yang paling tinggi adalah membaca tanda-tanda disekitar kita. >,<
Selamat belajar..selamat menyamakan frekuensi..