Minggu, 22 November 2009

SBY adalah presiden ke 8 bukan 6




Adalah waktu yang tepat aku mengangkat judul ini, karena memang sekarang kita sedang demam capres, dimana2 banyak terpapang poster poster dan iklan iklan para calon presiden RI. tau ga kalo selama ini kita uda dipimpin oleh 8 orang presiden dan bukannya 6. LOh bukannya sepanjang sejarah kita telah dipimpin oleh 6 presiden..ups tunggu dulu, mari kita kembali menengok perjalanan sejarah kita tentang kepresidenan, jangan kaget sebenarnya kita uda dipimpin oleh 8 orang presiden. aku memaklumi MUNGKIN masih banyak dari sokalian yang beranggapan bahwa Indonesia hingga saat ini baru dipimpin oleh enam presiden, yaitu Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, dan kini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).


Namun hal itu ternyata keliru. Indonesia, menurut tulisan sejarah, hingga saat ini sebenarnya indonesia sudah dipimpin oleh delapan presiden. pertanyaanya, Lalu siapa dua orang lagi yang pernah memimpin Indonesia?

Dua tokoh yang terlewat itu adalah Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat. Keduanya tidak disebut, bisa karena alpa, tetapi mungkin juga disengaja. Sjafruddin Prawiranegara adalah Pemimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) ketika Presiden Soekarno dan Moh. Hatta ditangkap Belanda pada awal agresi militer kedua, sedangkan Mr. Assaat adalah Presiden RI saat republik ini menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat (1949).

Pada tanggal 19 Desember 1948, saat Belanda melakukan agresi militer II dengan menyerang dan menguasai ibu kota RI saat itu di Yogyakarta, mereka berhasil menangkap dan menahan Presiden Soekarno, Moh. Hatta, serta para pemimpin Indonesia lainnya untuk kemudian diasingkan ke Pulau Bangka. Kabar penangkapan terhadap Soekarno dan para pemimpin Indonesia itu terdengar oleh Sjafrudin Prawiranegara yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran dan sedang berada di Bukittinggi, Sumatra Barat.

Mr. Sjafruddin Prawiranegara
Untuk mengisi kekosongan kekuasaan, Sjafrudin mengusulkan dibentuknya pemerintahan darurat untuk meneruskan pemerintah RI. Padahal, saat itu Soekarno – Hatta mengirimkan telegram berbunyi, “Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas Ibu Kota Jogjakarta. Djika dalam keadaan pemerintah tidak dapat mendjalankan kewajibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra”.

Namun saat itu telegram tersebut tidak sampai ke Bukittinggi. Meski demikian, ternyata pada saat bersamaan Sjafruddin Prawiranegara telah mengambil inisiatif yang senada. Dalam rapat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok Bukittinggi, 19 Desember 1948, ia mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat (emergency government). Gubernur Sumatra Mr. T.M. Hasan menyetujui usul itu “demi menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang berada dalam bahaya, artinya kekosongan kepala pemerintahan, yang menjadi syarat internasional untuk diakui sebagai negara”.

Pada 22 Desember 1948, di Halaban, sekitar 15 km dari Payakumbuh, PDRI “diproklamasikan” . Sjafruddin duduk sebagai ketua/presiden merangkap Menteri Pertahanan, Penerangan, dan Luar Negeri, ad. interim. Kabinatenya dibantu Mr. T.M. Hasan, Mr. S.M. Rasjid, Mr. Lukman Hakim, Ir. Mananti Sitompul, Ir. Indracahya, dan Marjono Danubroto. Adapun Jenderal Sudirman tetap sebagai Panglima Besar Angkatan Perang.

Sjafruddin menyerahkan kembali mandatnya kepada Presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949 di Yogyakarta. Dengan demikian, berakhirlah riwayat PDRI yang selama kurang lebih delapan bulan melanjutkan eksistensi Republik Indonesia.

Mr. Assaat
Dalam perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang ditandatangani di Belanda, 27 Desember 1949 diputuskan bahwa Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS). RIS terdiri dari 16 negara bagian, salah satunya adalah Republik Indonesia. Negara bagian lainnya seperti Negara Pasundan, Negara Indonesia Timur, dan lain-lain.
Karena Soekarno dan Moh. Hatta telah ditetapkan menjadi Presiden dan Perdana Menteri RIS, maka berarti terjadi kekosongan pimpinan pada Republik Indonesia.

Assaat adalah Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI. Peran Assaat sangat penting. Kalau tidak ada RI saat itu, berarti ada kekosongan dalam sejarah Indonesia bahwa RI pernah menghilang dan kemudian muncul lagi. Namun, dengan mengakui keberadaan RI dalam RIS yang hanya beberapa bulan, tampak bahwa sejarah Republik Indonesia sejak tahun 1945 tidak pernah terputus sampai kini. Kita ketahui bahwa kemudian RIS melebur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 15 Agustus 1950. Itu berarti, Assaat pernah memangku jabatan Presiden RI sekitar sembilan bulan.
Nah sobat Percil, dengan demikian, SBY adalah presiden RI yang ke-8.

Urutan Presiden RI adalah sebagai berikut: Soekarno (diselingi oleh Sjafruddin Prawiranegara dan Assaat), Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.


Minggu, 08 November 2009

CerpenQ

Siang itu matahari terik menyengat. Siswa-siswi SMA Negeri satu Kebumen berhamburan di luar kelas. Ada yang mondar-mandir di koridor, ada pula yang hanya duduk-duduk di serambi kelas. Tidak sedikit yang berdiam diri di dalam kelas karena akan menghadapi ulangan harian. Aku memilih melangkahkan kakiku ke sebuah bangunan, tempat di mana hanya alas kaki yang menyambutku. Terasnya lengang, tapi itu tak semata-mata membuat bangunan itu sepi pengunjung. Belasan siswa sedang asik menghadap Ya Robb dengan khusu’ di ruangan yang ada di lantai dua. Ya, itulah mushola ikhwan, yang menjadi bagian dari Jundullah, mushala kebanggaan SMA Negeri satu Kebumen.

Setelah kutanggalkan sepatuku, akupun segera mengambil air wudhu. Membasuh bagian-bagian tubuhku sesuai dengan urutan yang telah ditentukan untuk menghilangkan najis agar menjadi suci dan layak untuk shalat karena Allah Ta’ala. Lalu aku menapakan kakiku ke anak tangga satu demi satu. Di anak tangga kedelapan, kurasakan angin berdesir pelan yang membawa hawa dingin merambati tubuhku.

“Astaghfirullah hal’adzim, ya Allah, lindungilah aku dari kejahatan mahluk-mahluk ciptaan-Mu.” Gumamku dalam hati seraya merasakan bulu kuduku berdiri.
Apakah kalian beranggapan aku penakut atau bernyali kecil? Ingatlah, bahwa tak ada seorangpun yang tahu akan berhadapan dengan siapa. Hanya Allah yang tahu, hanya Dia-lah yang dapat membebaskan kita dari segala kesulitan. Tak ada ruginya apabila kita memohon untuk keselamatan kita.

Dulu aku juga sempat melalaikan anjuran untuk memohon perlindungan kepada-Nya. Tapi sejak peristiwa itu, mataku seakan terbuka dari tabir kegelapan dan membuatku selalu ingin berada dalam lindungan-Nya.

@@@

Siang itu di Meteseh, hari yang sama teriknya dengan sekarang. Aku melaksanakan kemah kebangsaan di lapangan tembak yang telah disulap menjadi bumi perkemahan oleh ratusan anggota pramuka dari berbagai penjuru Jawa Tengah.

Saat itu istirahat siang. Aku dan Sembilan orang temanku sedang bersantai di tenda menanti waktu ashar. Acara hari ini memang tidak begitu padat karena merupakan hari terakhir kegiatan. Setelah pagi tadi kegiatan senam dan outbond, kami diberikan waktu istirahat yang cukup lama hingga pukul empat sore. Tak heran, karena waktu outbond, kami sudah berjalan kurang lebih dua belas kilometer.

Matahari mulai meredup dan waktu ashar telah tiba. Aku dan beberapa orang lainnya bergegas bangkit dan pergi ke mushola. Selain karena merasa terpanggil untuk shalat, kami juga malas berlama-lama antri mengambil air wudhu.

Kami memilih jalan lewat tenda putri karena jalurnya lebih pendek, lumayan penghematan tenaga. Di tengah perjalanan, regu putri dari wilayah sama mengingatkan untuk bergegas. Kamipun segera shalat dan berganti pakaian untuk apel. Tapi ternyata waktu yang tersisa masih cukup lama. Dasar anak perempuan, memang suka terburu-buru. Kamipun bertandang dengan pakaian pramuka lengkap untuk menanti waktu berkumpul.

@@@

Aku sengaja mendahului pergi ke tenda putri untuk sekadar bertemu dengan seseorang. Sesampainya di tenda putri, mereka sudah siap. Tak lama kemudian segerombolan regu laki-laki mengikuti jejakku menuju tenda putri.

Kami saling bertukar cerita untuk mengatasi rasa bosan karena menunggu. Salah satu dari anak perempuan, ada yang menceritakan bahwa tempat yang kami duduki waktu itu merupakan tempat yang angker dan menyimpan hawa-hawa mistis. Dia bercerita, malam sebelum kedatangan kami berkemah, ada sopir yang dikejar-kejar kepala tanpa badan. Lanjut anak tadi, katanya dia mendengar cerita tersebut dari Pembina yang mendapat cerita dari warga setempat.
Lalu ada pula yang menimpali bahwa arwah yang meninggal di jalan tol sekitar lapangan tembak Meteseh tersebut bersemayam di situ. Wah aku jadi horor sendiri, tapi aneh juga ya ceritanya. Walaupun begitu, aku tidak percaya sepenuhnya.

Peluit dibunyikan, pertanda acara akan segera dimulai. Aku dan peserta perkemahan yang lainnya segera mengikuti acara yang telah dipersiapkan oleh panitia, yaitu training motivation. Acara berlangsung hingga langit berubah menjadi jingga. Setelah shalat maghrib, kami melanjutkan acara dengan pentas seni. Tidak semua peserta dapat mengikuti acara ini dikarenakan harus ada beberapa orang yang tinggal di tenda.

@@@

Udara dingin terasa amat menusuk kulitku hingga menembus ke tulang-tulangku. Aku mulai merasa tidak enak badan, mungkin karena terlalu lelah mengikuti kegiatan siang tadi. Aku meminta izin untuk kembali ke tenda. Sebenarnya, aku juga tidak begitu menyukai acara tersebut, karena hiburanya cuma nyanyi-nyanyi tak jelas. Akupun memutuskan untuk kembali ke tenda.

Sesampainya di tenda aku segara mandi karena gatal yang tak tertahankan. Memang, sore tadi aku belum sempat mandi karena kami terlalu terburu-buru mempersiapkan diri untuk mengikuti kegiatan berikutnya. Seusai mandi aku berdiam diri di tenda sendirian. Aku sempat takut karena berada di dalam tenda sendirian, sementara yang lainnya sedang asyik menikmati pentas seni tersebut. Aku memutuskan untuk duduk-duduk di luar tenda, lumayan keadaan di luar cukup terang dan aku dapat melihat sekeliling. Tendaku berada di bagian paling belakang dari komplek perkemahan tersebut, sehingga aku dapat melihat anak-anak lain yang juga sedang menjaga tenda.

Kusandarkan pundakku pada tiang penyangga tenda. Sambil memandangi langit yang begitu cerah bertaburan bintang-bintang. Aku takjub melihat kebesaran Sang Illahi Robbi yang telah menciptakan semua ini. Seraya menikmati keindahan alami tersebut aku sempat terlelap sebelum suara teriakan perempuan yang histeris mengagetkanku.

Aku kaget bukan kepalang, jantung yang tadinya berdetak beraturan, tiba-tiba berubah tak karuan. Aku kaget, takut, bingung, dan lain sebagainya. Ku pandangi kesekeliling, melihat orang-orang berlari mnuju suatu tempat. Tiba-tiba bulu kuduku berdiri. Aku bergegas ikut lari menuju tempat keramaian itu yang juga merupakan sumber suara yang baru saja aku dengar.
Betapa terkejutnya aku, melihat sesosok perempuan dengan rambut sebahu dan memakai pakaian trining olahraga sedang mengguling-guling di tanah. Tangannya yang tak begitu besar meremas-remas rambut yang menempel di kepalanya. Keadaannya sungguh menakutkan diiringi suara histeris yang makin memperkuat kesan seramnya. Tak jelas apa yang diucapkannya, yang ku dengar hanya rintihan sakit dan teriakan yang tak bermakna.

Hal itu terjadi sekitar lima belas menit sampai akhirnya pnyelenggara membawa seorang ulama atau kyai setempat. Setelah dibacakan doa, perempuan itu mulai dapat mengontrol dirinya lagi dan berhenti merintih ataupun berteriak. Perempuan itu langsung dibawa ke ruang kesehatan dengan ditemani beberapa teman dan pembinanya.

Kyai tersebut berkata bahwa kejadian tersebut dapat terjadi karena perempuan itu telah berkata-kata tidak sopan sehingga konon, penghuni tempat itu merasa terganggu dan marah. Pada saat itu juga kami yang ada dan menyaksikan hal tersebut di beri pengarahan untuk tidak berkata-kata yang tidak sopan, ataupun membuang sesuatu di sembarang tempat.

@@@

Keesokan harinya setelah senan pagi, aku menceritakan kejadian semalam kepada teman-temanku. Mereka mendengarkan dengan seksama dan memberikan komentar yang bermacam-macam. Kemudian kami lanjutkan dengan candaan-candaan untuk menghilangkan kesan mistis yang baru saja menyelimuti kami.

Acara berikutnya bongkar tenda dan upacara penutupan. Aku sengaja tidak mengikuti upacar penutupan, selain karena males, tetapi juga karena masih mengantuk dan juga panas. Semalaman aku tidak begitu bias tidur karena memikirkan hal yang baru saja terjadi.
Selesai semuanya kami menuju mobil truk TNI yang sengaja disediakan untuk kami pulang. Di perjalanan kami saling bergurau untuk menghilangkan rasa penat. Namun ada juga yang tertidur karena kelelahan.

Sejak kejadian itu, setiap saat,di manapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun aku berusaha untuk selalu mengingat Allah dan selalu memohon perlindungan-Nya. Berharap kejadian di Meteseh tersebut tidak akan dan tidak pernah menimpaku, keluarga dan sahabat-sahabatku. Aku sadar bahwa kita sebagai manusia tidak ada apa-apanya di hadapan-Nya. Kita nol di depan-Nya. Hanyalah Dia yang Maha Menguasai Segalanya. SEKIAN.

Sniper