Minggu, 08 November 2009

CerpenQ

Siang itu matahari terik menyengat. Siswa-siswi SMA Negeri satu Kebumen berhamburan di luar kelas. Ada yang mondar-mandir di koridor, ada pula yang hanya duduk-duduk di serambi kelas. Tidak sedikit yang berdiam diri di dalam kelas karena akan menghadapi ulangan harian. Aku memilih melangkahkan kakiku ke sebuah bangunan, tempat di mana hanya alas kaki yang menyambutku. Terasnya lengang, tapi itu tak semata-mata membuat bangunan itu sepi pengunjung. Belasan siswa sedang asik menghadap Ya Robb dengan khusu’ di ruangan yang ada di lantai dua. Ya, itulah mushola ikhwan, yang menjadi bagian dari Jundullah, mushala kebanggaan SMA Negeri satu Kebumen.

Setelah kutanggalkan sepatuku, akupun segera mengambil air wudhu. Membasuh bagian-bagian tubuhku sesuai dengan urutan yang telah ditentukan untuk menghilangkan najis agar menjadi suci dan layak untuk shalat karena Allah Ta’ala. Lalu aku menapakan kakiku ke anak tangga satu demi satu. Di anak tangga kedelapan, kurasakan angin berdesir pelan yang membawa hawa dingin merambati tubuhku.

“Astaghfirullah hal’adzim, ya Allah, lindungilah aku dari kejahatan mahluk-mahluk ciptaan-Mu.” Gumamku dalam hati seraya merasakan bulu kuduku berdiri.
Apakah kalian beranggapan aku penakut atau bernyali kecil? Ingatlah, bahwa tak ada seorangpun yang tahu akan berhadapan dengan siapa. Hanya Allah yang tahu, hanya Dia-lah yang dapat membebaskan kita dari segala kesulitan. Tak ada ruginya apabila kita memohon untuk keselamatan kita.

Dulu aku juga sempat melalaikan anjuran untuk memohon perlindungan kepada-Nya. Tapi sejak peristiwa itu, mataku seakan terbuka dari tabir kegelapan dan membuatku selalu ingin berada dalam lindungan-Nya.

@@@

Siang itu di Meteseh, hari yang sama teriknya dengan sekarang. Aku melaksanakan kemah kebangsaan di lapangan tembak yang telah disulap menjadi bumi perkemahan oleh ratusan anggota pramuka dari berbagai penjuru Jawa Tengah.

Saat itu istirahat siang. Aku dan Sembilan orang temanku sedang bersantai di tenda menanti waktu ashar. Acara hari ini memang tidak begitu padat karena merupakan hari terakhir kegiatan. Setelah pagi tadi kegiatan senam dan outbond, kami diberikan waktu istirahat yang cukup lama hingga pukul empat sore. Tak heran, karena waktu outbond, kami sudah berjalan kurang lebih dua belas kilometer.

Matahari mulai meredup dan waktu ashar telah tiba. Aku dan beberapa orang lainnya bergegas bangkit dan pergi ke mushola. Selain karena merasa terpanggil untuk shalat, kami juga malas berlama-lama antri mengambil air wudhu.

Kami memilih jalan lewat tenda putri karena jalurnya lebih pendek, lumayan penghematan tenaga. Di tengah perjalanan, regu putri dari wilayah sama mengingatkan untuk bergegas. Kamipun segera shalat dan berganti pakaian untuk apel. Tapi ternyata waktu yang tersisa masih cukup lama. Dasar anak perempuan, memang suka terburu-buru. Kamipun bertandang dengan pakaian pramuka lengkap untuk menanti waktu berkumpul.

@@@

Aku sengaja mendahului pergi ke tenda putri untuk sekadar bertemu dengan seseorang. Sesampainya di tenda putri, mereka sudah siap. Tak lama kemudian segerombolan regu laki-laki mengikuti jejakku menuju tenda putri.

Kami saling bertukar cerita untuk mengatasi rasa bosan karena menunggu. Salah satu dari anak perempuan, ada yang menceritakan bahwa tempat yang kami duduki waktu itu merupakan tempat yang angker dan menyimpan hawa-hawa mistis. Dia bercerita, malam sebelum kedatangan kami berkemah, ada sopir yang dikejar-kejar kepala tanpa badan. Lanjut anak tadi, katanya dia mendengar cerita tersebut dari Pembina yang mendapat cerita dari warga setempat.
Lalu ada pula yang menimpali bahwa arwah yang meninggal di jalan tol sekitar lapangan tembak Meteseh tersebut bersemayam di situ. Wah aku jadi horor sendiri, tapi aneh juga ya ceritanya. Walaupun begitu, aku tidak percaya sepenuhnya.

Peluit dibunyikan, pertanda acara akan segera dimulai. Aku dan peserta perkemahan yang lainnya segera mengikuti acara yang telah dipersiapkan oleh panitia, yaitu training motivation. Acara berlangsung hingga langit berubah menjadi jingga. Setelah shalat maghrib, kami melanjutkan acara dengan pentas seni. Tidak semua peserta dapat mengikuti acara ini dikarenakan harus ada beberapa orang yang tinggal di tenda.

@@@

Udara dingin terasa amat menusuk kulitku hingga menembus ke tulang-tulangku. Aku mulai merasa tidak enak badan, mungkin karena terlalu lelah mengikuti kegiatan siang tadi. Aku meminta izin untuk kembali ke tenda. Sebenarnya, aku juga tidak begitu menyukai acara tersebut, karena hiburanya cuma nyanyi-nyanyi tak jelas. Akupun memutuskan untuk kembali ke tenda.

Sesampainya di tenda aku segara mandi karena gatal yang tak tertahankan. Memang, sore tadi aku belum sempat mandi karena kami terlalu terburu-buru mempersiapkan diri untuk mengikuti kegiatan berikutnya. Seusai mandi aku berdiam diri di tenda sendirian. Aku sempat takut karena berada di dalam tenda sendirian, sementara yang lainnya sedang asyik menikmati pentas seni tersebut. Aku memutuskan untuk duduk-duduk di luar tenda, lumayan keadaan di luar cukup terang dan aku dapat melihat sekeliling. Tendaku berada di bagian paling belakang dari komplek perkemahan tersebut, sehingga aku dapat melihat anak-anak lain yang juga sedang menjaga tenda.

Kusandarkan pundakku pada tiang penyangga tenda. Sambil memandangi langit yang begitu cerah bertaburan bintang-bintang. Aku takjub melihat kebesaran Sang Illahi Robbi yang telah menciptakan semua ini. Seraya menikmati keindahan alami tersebut aku sempat terlelap sebelum suara teriakan perempuan yang histeris mengagetkanku.

Aku kaget bukan kepalang, jantung yang tadinya berdetak beraturan, tiba-tiba berubah tak karuan. Aku kaget, takut, bingung, dan lain sebagainya. Ku pandangi kesekeliling, melihat orang-orang berlari mnuju suatu tempat. Tiba-tiba bulu kuduku berdiri. Aku bergegas ikut lari menuju tempat keramaian itu yang juga merupakan sumber suara yang baru saja aku dengar.
Betapa terkejutnya aku, melihat sesosok perempuan dengan rambut sebahu dan memakai pakaian trining olahraga sedang mengguling-guling di tanah. Tangannya yang tak begitu besar meremas-remas rambut yang menempel di kepalanya. Keadaannya sungguh menakutkan diiringi suara histeris yang makin memperkuat kesan seramnya. Tak jelas apa yang diucapkannya, yang ku dengar hanya rintihan sakit dan teriakan yang tak bermakna.

Hal itu terjadi sekitar lima belas menit sampai akhirnya pnyelenggara membawa seorang ulama atau kyai setempat. Setelah dibacakan doa, perempuan itu mulai dapat mengontrol dirinya lagi dan berhenti merintih ataupun berteriak. Perempuan itu langsung dibawa ke ruang kesehatan dengan ditemani beberapa teman dan pembinanya.

Kyai tersebut berkata bahwa kejadian tersebut dapat terjadi karena perempuan itu telah berkata-kata tidak sopan sehingga konon, penghuni tempat itu merasa terganggu dan marah. Pada saat itu juga kami yang ada dan menyaksikan hal tersebut di beri pengarahan untuk tidak berkata-kata yang tidak sopan, ataupun membuang sesuatu di sembarang tempat.

@@@

Keesokan harinya setelah senan pagi, aku menceritakan kejadian semalam kepada teman-temanku. Mereka mendengarkan dengan seksama dan memberikan komentar yang bermacam-macam. Kemudian kami lanjutkan dengan candaan-candaan untuk menghilangkan kesan mistis yang baru saja menyelimuti kami.

Acara berikutnya bongkar tenda dan upacara penutupan. Aku sengaja tidak mengikuti upacar penutupan, selain karena males, tetapi juga karena masih mengantuk dan juga panas. Semalaman aku tidak begitu bias tidur karena memikirkan hal yang baru saja terjadi.
Selesai semuanya kami menuju mobil truk TNI yang sengaja disediakan untuk kami pulang. Di perjalanan kami saling bergurau untuk menghilangkan rasa penat. Namun ada juga yang tertidur karena kelelahan.

Sejak kejadian itu, setiap saat,di manapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun aku berusaha untuk selalu mengingat Allah dan selalu memohon perlindungan-Nya. Berharap kejadian di Meteseh tersebut tidak akan dan tidak pernah menimpaku, keluarga dan sahabat-sahabatku. Aku sadar bahwa kita sebagai manusia tidak ada apa-apanya di hadapan-Nya. Kita nol di depan-Nya. Hanyalah Dia yang Maha Menguasai Segalanya. SEKIAN.

Tidak ada komentar: