Jumat, 07 April 2017

Mengikat Makna, Mengukir “Aku Cinta Sekolah” di Bumi Merauke



Oleh: Riky Indra Prihantoro, S.Pd.
 “Mendidiklah dengan hati!”. kata-kata itulah yang selalu menjadi pedoman  bagi setiap pendidik. Dengan tulus dan ikhlas memberikan setiap ilmu yang dimiliki, untuk bekal anak didiknya. Belajar bersama dalam rumah formal bernama sekolah. Sekolah merupakan tempat atau sarana untuk mencetak generas-generasi penerus bangsa. Selain sebagai pemasok ilmu pengetahuan bagi siswa, sekolah juga sebagai pembentuk karakter dan kepribadian siswa. bahkan di sekolah jugalah tempat para siswa merangkai mimpi, sebuah gerbang depan untuk cita-cita tinggi mereka.
Sekolah juga sebagai sarana sosialisasi kecil bagi siswa sebelum mereka terjun langsung kelingkungan masyarakat yang sebenarnya. Oleh karena itu maka sangatlah penting bagi siswa untuk bisa hadir di sekolah dan ikut serta dalam setiap kegiatan yang berlangsung di sekolah. Dimana di era saat ini,  bersekolah sudah menjadi suatu kewajiban bagi anak-anak di seluruh Indonesia.
Di era saat ini mungkin kita takkan mengira bahwa pendidikan masih “mahal” untuk di beberapa wilayah di Indonesia. “mahal” dalam artian masih jauh dari kata “nyaman” untuk bisa bersekolah. Masih jauh dari kata “menyenangkan” untuk bisa menjadikan sekolah sebagai rumah kedua bagi para siswa. bahkan tak sedikit dari mereka beranggapan, “buat apa sekolah?”
Merauke, salah satu kabupaten paling timur Indonesia. Merupakan kabupaten yang berbatasan langsung dengan Papua New Guini. Letaknya yang begitu jauh dari ibukota Negara, membuat kabupaten ini masih sedikit kurang perhatian dari pemerintah pusat, sehingga masih banyak daerah-daerah yang disebut pelosok atau pedalaman. Hal tersebut salah satunya dikarenakan oleh keterbatasan sarana transportasi dan komunikasi yang mengakibatkan pola piker dan peradaban masyarakan “pedalaman” tersebut masih sedikit primitive. Begitu pula dalam bidang pendidikan.
Kepedulian dalam bidang pendidikan oleh suku asli masih sangat kurang. Kebanyakan dari mereka menghabiskan hidupnya hanya untuk “mencari ……” untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja. Tidak jarang para orang tua mengajak anaknya yang masih kecil-kecil untuk ikut “mencari……….” bukanya untuk sekolah dan belajar. Pola hidup yang demikian turut mempengaruhi orientasi anak-anak usia sekolah terhadap pendidikan dan sekolah. Hanya ada beberapa orang tua saja yang seringkali memperhatikan dan menyuruh anak mereka untuk bersekolah. Siswa yang “dipaksa” untuk bersekolah oleh orang tuanya (jika tidak dapat pukul) terbukti memiliki kesadaran dan tingkat kehadiran serta prestasi (kemampuan akademik) lebih tinggi disbanding siswa lainnya.
Pernah suatu ketika saat sedang santai kami melakukan sedikit percakapan dengan salah seorang siswa, kami: “nata, kamu tidak ikut bapak ke laut kah?”.Siswa: “tidak bapak guru, kata bapak saya harus sekolah”. Kami: “baru kalau kamu tidak sekolah bapak marahkah”. Siswa:“marah bapak guru, saya bisa kena pukul”. Dari percakapan singkat tersebut kami beranggapan, ternyata ada juga orang tua yang berpikiran lebih maju, yang lebih mengutamakan pendidikan bagi anaknya.
Selain karena paksaan orang tua, kehadiran siswa di sekolah juga dipengaruhi oleh kondisi alam. Saat saat musim panas siswa bisa berangkat lebih tempo atau lebih awal dari pada musim hujan. Tetapi apabila cuara mendung atau hujan, sampai pukul 10.00 wit terkadang belum ada siswa di sekolah. Bagi penduduk pedalaman, penunjuk waktu yang mereka gunakan adalah matahari. Sehingga apabila cuaca mendung, dan matahari tidak muncul, mereka mengira masih pagi, sehingga masih tidur di rumah masing-masing.
Di beberapa sekolah seperti di TK dan SD yang ada di Distrik Kimaam, mereka memberikan sarapan pagi bagi siswa yang berangkat ke sekolah. Hal ini menjadi daya tarik terhadap kehadiran siswa. Sebagian siswa saat pagi hari belum sarapan karena orang tuanya di rumah belum memasak. Dengan adanya sarapan pagi di sekolah, siswa menjadi senang, dan mendorong siswa untuk rajin berangkat sekolah.
Tidak sedikit siswa yang berangkat sekolah hanya ikut-ikut teman-temannya saja. Mereka ke sekolah untuk bertemu dan bermain dengan teman-temannya, sehingga sekolah hanya digunakan sebagai media untuk bertemu dengan teman. Pernah saat pembelajaran masih berlangsung, beberapa siswa merengek minta pulang dengan alasan lapar. Tetapi setelah dipulangkan, mereka tidak langsung pulang, malah bermain dengan temannya, dan bahkan ada yang bermain bola.
Selain karena ingin bermain dengan teman, tujuan anak pergi sekolah juga karena takut dengan guru. Kami pernah mendengar cerita bahwa beberapa tahun yang lalu ada guru yang setiap pagi keliling kampung dengan membawa rotan untuk memukul anak-anak yang didapati tidak pergi sekolah. Hal tersebut membuat anak pergi ke sekolah meski karena terpaksa. Tetapi ada juga siswa yang pergi ke sekolah karena ingin bertemu atau mendapati guru yang baik. Saat tugas kami selesai dan akan meninggalkan sekolah, ada siswa yang bilang “Bapak guru, kalau bapak guru pergi saya tidak mau sekolah” “kenapa tidak mau sekolah?” “Saya takut di pukul, saya mau pindah ke kota”.
 Siswa malas pergi ke sekolah juga terkadang disebabkan oleh kemapuan siswa itu sendiri yang kurang dibandingkan siswa lainnya. Siswa yang memiliki kemampuan kurang terkadang menjadi bahan ejekan oleh temannya, sehingga mereka lebih ingin untuk bermain daripada sekolah dan malas mengikuti pembelajaran. Ada beberapa siswa kelas 4 yang minta turun kelas. Alasannya adalah karena ingin lebih banyak bermain, seperti kelas di bawahnya.

Namun, dari sekian siswa juga ada beberapa siswa yang pergi sekolah karena kesadaran pribadi dan memang benar-benar ingin pintar dan perlu akan pendidikan. Mereka senang saat kami memberikan materi yang baru dan cepat memahami apa yang kami sampaikan. Memang kesadaran dari dalam diri sangatlah penting. Karena dengan merasa perlu, siswa akan lebih memperhatikan instruksi dan penjelasan guru. Tidak jarang siswa yang pergi ke sekolah dengan keinginan sendiri senang apabila diberi PR dan malah minta PR.
bercermin dari bumi merauke, pendidikan tak selamanya nyaman bahkan berada dalam keterbatasan. tapi yakinlah bahwa  untuk mencapai kemajuan selalu membutuhkan proses. begitu pula terhadap dunia pendidikan. untuk bisa menanamkan rasa “Aku Cinta Sekolah” di bumi merauke ini tak jarang membutuhkan pengorbanan lebih dari para pejuang-pejuang pendidikan. mengajar dan mendidik lah dengan hati wahai para pejuang pendidikan, maka apapun yang kita sampaikan akan terikur di hati anak didik. Tetap semangat untuk Bapak/ Ibu Guru!!!


RikyIndraPrihantoro, S.Pd.
Guru SM-3T SD INPRES Kumbis