Jumat, 03 Mei 2019

Sudut Pandang (Latepost)



Sudah hampir enam bulan saya menginjakan kaki di kota orang, bukan di negeri orang karena kota ini masih menjadi bagian dari negeri saya, Indonesia. Di kota ini saya bertugas selama satu tahun, bukan di bagian kotanya, tapi di bagian pedalamannya. Ya kalo pedalamannya pedalaman Jawa, masih mending, artinya masih bisa terjangkau dengan kendaraan yang ada. Pedalaman tempat saya bertugas adalah pedalaman kota Merauke. Merauke, kota paling timur Indonesia, yang terletak di Pulau Papua.

Apa hal pertama yang terlintas di benak kaliah saat mendengar pedalaman Papua? Hutan rimba kah? Orang makan orang kah? Koteka kah? Suku-suku kah? Hmm tidak semengerikan itu, tapi juga tidak se-enak di kota pastinya. Tempat saya bertugas tepatnya di Kampung Kumbis Distrik Kimaam, Kab. Merauke. Kalau dari Jawa Tengah bisa menuju Bandara Adi Sucipto Jogja untuk terbang ke Jakarta dan kemudian lanjut ke Jayapura langsung menuju ke Merauke. Untuk menuju Kampung Kumbis masih dibutuhkan waktu sekitar 14-16 jam perjalanan laut menyebrangi Laut Arafura menggunakan kapal penumpang. Itulah rute yang bisa ditempuh dan yang saya jalani untuk sampai di Kampung Kumbis, tempat saya bertugas.

Banyak hal yang telah saya alami di sini, ada senang dan dukanya itu pasti. saat jauh dari keluarga dan dari orang-orang tersayang. Saat jauh dari tempat tinggal, dari tempat nyaman saya selama ini, dan dari semua fasilitas yang ada. Namun, dibalik semua itu saya temukan kerabat dan saudara-saudara baru untuk berbagi cerita dan keluh kesah manakala rindu melanda.

Awal saya sampai di sini, belum sempat saya merasakan hingar bingar kota Merauke. dua minggu berada di Wasur, pinggiran kota Merauke, saya langsung diberangkatkan ke tempat tugas. Langsung berpisah dengan fasilitas-fasilitas yang memanjakan. Kaget? iya pastinya, apalagi saya termasuk orang yang gemar bermain dengan gadged. Di Kumbis ini tidak ada fasilitas internet. Jangankan internet, sinyal untuk sekedar bertelepon dan smspun tidak ada.

Satu dua hari belum begitu terasa, tapi satu minggu, dua minggu, mulai terasa banyak sesuatu yang rasanya hilang. saya tidak bisa mengakses info-info dari luar dan juga dari teman-teman, tidak bisa berkomunikasi dengan mereka, dan tidak bisa tahu apapun yang terjadi terhadap mereka. Dan tidak tahu kabar tentangmu juga. Terpaksa saya harus mencari kesibukan untuk membunuh waktu yang ada. Hal yang saya pilih untuk menghabiskan waktu salah satunya adalah memancing dan berkebun, dan memang terbukti berhasil.

Sebulan terlewati tanpa terasa. Saat anak-anak murid mulai akrab dengan saya, terkadang mereka satu persatu datang ke rumah untuk sekedar membawakan ikan dan kelapa muda untuk bapak gurunya. Kadang juga ada warga yang membawakan ubi jalar. Senang rasanya, karena merasa diperhatikan oleh mereka. Selain itu, anak-anak juga merasa ada kebanggaan tersendiri dan merasa sangat senang manakala saya meminta bantuan kepada mereka. Tidak jarang mereka berebut untuk bisa membantu.

Waktu terus berjalan. Hari demi hari saya lewati tanpa sarana komunikasi. Hingga sampai waktu libur sekolah. Saya putuskan untuk berlibur ke kota, ya kota merauke, untuk sekedar menjelajah kota kecil ini. Perjalanan menuju kota tidaklah mulus, saya dan rekan saya menumpang kapal kepiting yang singgah juga di Kumbis. Ketika di tengah perjalanan, mesin kapal rusak yang mengharuskan kami menungu sekitar 16 jam di laut arafura, terombang ambing oleh ombak laut selatan Papua.

Sampai di kota hal yang pertama saya lakukan adalah menghubungi keluarga dan orang-orang tersayang, kemudian menikmati segala aktifitas dan fasilitas yang ada di kota. Kota merauke tidak jauh beda dengan kota-kota di jawa lainnya. Kota ini juga sudah tampak lebih maju dari yang dibayangkan, dan memang cukup kecil daerahnya.

Waktu liburan telah usai, saatnya kembali ke sekolah yang artinya harus kembali lagi dengan keterbatasan sarana dan prasarana. Musim hujan baru saja mulai, kabar yang beredar di kumbis akan banyak nyamuk sampai beberapa bulan. Saya sudah mengantisipasinya dengan membeli obat nyamuk bentuk lotion. Sampai di Kumbis memang nyamuk banyak, tapi tidak seperti yang saya bayangkan, jauh lebih banyak dari ekspektasi saya. Saat jalan dari dermaga menuju kampung, tangan tak henti-hentinya mengibas-ngibas untuk menghindari dan mengusir nyamuk yang menempel di tangan dan muka. Belum lagi yang menempel di kaki. Dan gigitan nyamuk di sini jauh lebih terasa dari pada nyamuk yang pernah saya rasakan.

Tidak cukup sampai di situ, saat saya sampai rumah, betapa kagetnya saya. Kondisi rumah yang sangat memprihatinkan. Rumah dalam keadaan terbuka, barang-barang semua tidak ada entah kemana. Ada sebagian di rumah tetangga dan sebagian lain lagi tidak tau jejaknya. Hal ini yang membuat saya miris dan prihatin. Ya mungkin saja orang-orang ikut bantu menyimpankan. Mungkin.
Setelah liburan kali ini yang menurut saya benar-benar waktu terasa jauh lebih lama. Keadaan Kumbis yang banyak nyamuk membuat aktifitas saya terbatas. Tempat paling nyaman dan aman adalah di dalam klambu. Nyamuk di Kumbis sangat ganas. Keluar rumah saja nyamuk sudah menunggu di luar siap menyerbu. Apalagi kalau turun ke kebun dan jalan ke sekolah, nyamuk langsung menyerbu dan "mengerubungi" kalo tidak pakai baju, nyamuk yang menempel di badan bagaikan pasir yang di lemparkan ke badan, banyak sekali.

Tidak banyak yang dapat saya lakukan. Jangankan untuk pergi memancing dan berkebun, untuk sekedar jalan ke sekolahpun nyamuk sudah menyerang. Saat berangkat ke sekolah, selalu obat nyamuk yang saya bawa. Untuk mengusir nyamuk di sekitar saya saat mengajar. Waktu jadi terasa lebih lama karena terbatasnya aktifitas yang bisa dilakukan.

Begitulah kehidupan saya di Kumbis. Hidup dimanapun memang selalu ada hal yang positif dan negatif, selalu ada yang enak dan tidak enak. Dan semua kembali tergantung dari kitanya mau menyikapi bagaimana. Seperti dalam fotografi, sudut pandang yang berbeda dapat menghasilkan foto yang berbeda pula. Dalam menyikapi masalah juga seperti itu. Kalau kita hanya melihat dari sisi negatifnya saja, kita akan merasa makin susah dan hidup makin tidak enak. Sebaliknya kalau kita melihat dari sisi positif, kita akan lebih menikmati dan mensyukuri atas apa yang telah kita terima.

Di sini, di Kumbis, saya jadi lebih bersyukur, bersyukur atas apa yang telah saya miliki. Bersyukur dengan kondisi geografis di tempat tinggal saya, dan bersyukur atas apapun yang melekat pada saya. Karena belum tentu orang lain memiliki apa yang saya miliki atau tempat lain tidak seperti tempat yang saya tinggali. Intinya, selalu bersyukur dan terus bersyukur. Karena dengan bersyukur Allah akan menambahkan nikmat-Nya.
Kumbis, 18 Februari 2016
Riky Indra Prihantoro